Batam, News

Batam Tak Masuk 10 Besar Kota Maju Sumatra Versi IDSD, Pemko Masih Pelajari Penyebabnya

Riki | Senin 27 Jul 2026 13:06 WIB | 67

Wali Kota/Wakil Wali Kota


Batam Tak Masuk 10 Besar Kota Maju Sumatra Versi IDSD


Matakepri.co.id, Batam - Kota Batam belum berhasil masuk dalam daftar 10 besar kota dengan daya saing tertinggi di Pulau Sumatra berdasarkan Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025. Padahal, Batam selama ini dikenal sebagai salah satu pusat industri, investasi, dan penggerak utama pertumbuhan ekonomi di kawasan barat Indonesia.


Dalam pemeringkatan IDSD 2025 yang disusun Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), posisi pertama ditempati Kota Medan dengan indeks 4,32. Disusul Padang (4,25), Pekanbaru dan Palembang (4,23), Metro (4,19), serta Tanjungpinang di peringkat keenam dengan indeks 4,17.


Sementara itu, Batam tidak masuk dalam jajaran 10 kota dengan daya saing daerah tertinggi di Sumatra.


Menanggapi hasil tersebut, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Batam, Firmansyah, mengatakan Pemerintah Kota Batam masih melakukan kajian untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan Batam belum mampu menembus peringkat tersebut.


"Iya, saya cek dulu ke Bappeda. Karena penilaian ini menggunakan banyak faktor dan indikator, bukan hanya satu aspek saja," ujar Firmansyah, dikutip dari Batam Pos, Senin (27/7).


Menurutnya, pengukuran daya saing daerah tidak semata-mata didasarkan pada capaian ekonomi atau besarnya investasi, tetapi juga mencakup berbagai indikator pembangunan lainnya.


Selama ini Batam dikenal sebagai kota industri yang menjadi tujuan utama investasi, baik Penanaman Modal Asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Status sebagai kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas juga menjadi salah satu keunggulan Batam dalam menarik investor.


Namun, keunggulan tersebut belum cukup untuk menempatkan Batam di jajaran kota dengan daya saing tertinggi.


Dalam penyusunannya, IDSD menilai berbagai aspek pembangunan daerah, mulai dari kelembagaan, infrastruktur, pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi, stabilitas ekonomi, kesehatan, keterampilan tenaga kerja, pasar tenaga kerja, sistem keuangan, ukuran pasar, dinamika bisnis, hingga kapasitas inovasi daerah.


Dengan demikian, ukuran daya saing sebuah kota tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi, tetapi juga oleh kualitas pelayanan publik, tata kelola pemerintahan, inovasi, dan kesejahteraan masyarakat.


Meski menjadi motor penggerak ekonomi Provinsi Kepulauan Riau, Batam masih menghadapi sejumlah persoalan pembangunan yang menjadi perhatian masyarakat.


Beberapa di antaranya meliputi banjir, pengelolaan sampah, keterbatasan layanan air bersih di sejumlah kawasan, kemacetan lalu lintas, hingga berbagai persoalan sosial lainnya.


Di sektor ketenagakerjaan, Batam juga masih dihadapkan pada tingkat pengangguran yang relatif tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri di tengah pertumbuhan industri yang terus berkembang.


Selain itu, pembangunan kota yang berdaya saing juga erat kaitannya dengan pemerataan kesejahteraan, kualitas lingkungan, pelayanan publik yang efektif, serta kemampuan pemerintah menghadirkan ruang hidup yang aman dan nyaman bagi masyarakat.


Karena itu, hasil IDSD 2025 dinilai dapat menjadi bahan evaluasi bagi Pemerintah Kota Batam untuk mengidentifikasi sektor-sektor yang masih perlu diperkuat guna meningkatkan daya saing daerah.


Firmansyah mengatakan, saat ini Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Batam masih mempelajari hasil penilaian tersebut.


"Lagi dipelajari Bappeda," katanya. (Egi)


Redaktur: ZB



Share on Social Media