Batam, News, Pendidikan, Kepri

Menanti Tangisan Sang Buah Hati, Sang Ibu Justru Diterpa Badai Fitnah

Egi | Rabu 24 Jun 2026 23:38 WIB | 71

DPRD Batam
Pemko Batam
Polres/Ta dan Polsek
Polda Kepri
Gubernur Kepri/Wakil Gubernur
Presiden RI/Wakil Presiden RI
Perguruan Tinggi/Sekolah
Wali Kota/Wakil Wali Kota
Pendidikan


Kepsek Playgroup Djuwita Batam Lidyawati Siadari bermenung meratapi fitnah yang dihadapinya (foto: Egi)


Matakepri.co.id Batam Di saat sebagian besar ibu hamil menanti kelahiran buah hati dengan penuh kebahagiaan dan ketenangan, kondisi berbeda justru dialami Kepala Sekolah Djuwita Batam, Lidyawati Siadari. Memasuki usia kandungan lebih dari delapan bulan dan diperkirakan akan melahirkan pada Juli mendatang, ia harus menghadapi berbagai persoalan yang datang silih berganti, termasuk tuduhan dan pemberitaan yang disebut tidak benar.

Perempuan yang selama ini dikenal sebagai pendidik tersebut mengaku terpukul setelah namanya dan fotonya dipublikasikan dalam pemberitaan yang menyebut ijazah kelulusannya dari Universitas Diponegoro (Undip) merupakan ijazah palsu.

Bagi seorang ibu yang sedang mengandung, tuduhan tersebut bukan hanya menyerang dirinya secara pribadi, tetapi juga melukai harga diri keluarga besar yang selama ini mendukung perjalanan hidup dan kariernya.

"Bayangkan bagaimana perasaan seorang ibu yang sedang menunggu kelahiran anaknya, namun setiap hari harus membaca tuduhan yang tidak benar tentang dirinya. Wajahnya dipampang, namanya disebut-sebut, sementara keluarganya ikut menanggung rasa malu akibat informasi yang menurut kami tidak sesuai fakta," ujar kuasa hukumnya, Leo Halawa, Rabu (24/6/2026) siang.

Menurut Leo, berbagai persoalan yang belakangan muncul telah memberikan tekanan yang sangat besar terhadap kliennya. Di saat kondisi fisik semakin berat karena usia kehamilan yang hampir sembilan bulan, Lidyawati justru harus menghadapi beban pikiran yang tidak ringan.

Tekanan tersebut tidak hanya dirasakan oleh dirinya, tetapi juga berdampak terhadap lingkungan sekolah yang selama ini dipimpinnya.

Nama baik sekolah ikut tercoreng. Situasi yang sebelumnya kondusif berubah menjadi penuh kekhawatiran. Bahkan sejumlah orang tua murid mulai mempertanyakan keamanan dan kenyamanan anak-anak mereka saat berada di sekolah.

"Beberapa wali murid sempat bertanya kepada pihak sekolah, 'Apakah anak-anak kami aman sekolah di sini?' Pertanyaan itu tentu sangat menyedihkan bagi kami. Karena selama ini sekolah fokus memberikan pendidikan dan rasa aman kepada peserta didik," ungkapnya.

Bukan hanya orang tua murid yang merasa cemas. Beberapa murid juga dikabarkan mulai merasa takut setelah peristiwa disekolahnya. Orang-orang yang tidak dikenal berdatangan sehingga menggangu aktivitas belajar.


Padahal di tengah kondisi tersebut, Lidyawati tetap berusaha menjalankan tugasnya sebagai kepala sekolah secara profesional. Dengan kondisi kandungan yang semakin besar, ia masih hadir untuk mendampingi kegiatan belajar mengajar dan memastikan seluruh aktivitas pendidikan berjalan sebagaimana mestinya.

Namun di balik senyum yang ditunjukkan kepada para muridnya, tersimpan beban mental yang tidak mudah.

"Klien kami tetap profesional. Beliau tetap mengajar, tetap menjalankan tugas sebagai kepala sekolah, walaupun beban pikirannya sangat berat. Kondisi kesehatannya terganggu dan psikisnya juga terganggu akibat berbagai tuduhan yang tidak benar tersebut," kata Leo.

Pihak kuasa hukum pun mempertanyakan nurani pihak-pihak yang terus menyebarkan tuduhan terhadap seorang perempuan yang sedang berada di penghujung masa kehamilannya.

"Apakah mereka tidak memikirkan kondisi seorang ibu yang sedang mengandung hampir sembilan bulan? Setiap orang tentu memahami bahwa ibu hamil membutuhkan ketenangan, bukan tekanan yang terus-menerus," ujarnya.

Atas kondisi yang dialami kliennya, Leo menegaskan pihaknya akan mengambil langkah hukum terhadap oknum media maupun akun media sosial yang diduga menyebarkan informasi yang tidak benar dan merugikan nama baik Lidyawati.

"Kami akan melaporkan pihak-pihak yang kami nilai telah membuat klien kami resah dan dirugikan. Negara memiliki mekanisme hukum untuk menguji kebenaran suatu informasi. Karena itu, kami akan menempuh jalur hukum yang tersedia," tegasnya.

Kini, di tengah penantian kelahiran buah hati yang tinggal menghitung hari, Lidyawati hanya berharap dapat menjalani masa kehamilannya dengan tenang. Sebab bagi seorang ibu, tidak ada yang lebih penting selain menjaga kesehatan diri dan calon anak yang sedang dikandungnya.

Di saat banyak orang menantikan tangis pertama sang bayi pada Juli mendatang, Lidyawati masih harus berjuang menghadapi tekanan yang menurutnya tidak seharusnya ia alami. Sebuah ujian yang datang bukan dari proses kehamilan, melainkan dari tuduhan dan fitnah yang diyakini telah merenggut ketenangan hidupnya menjelang persalinan. (Egi)


Redaktur: ZB



Share on Social Media