Batam, News, Pendidikan, Kepri

Sekolah Djuwita Tegas Tolak Premanisme, Minta Semua Pelaku Intimidasi Diproses Hukum

Egi | Rabu 24 Jun 2026 16:54 WIB | 101

Polres/Ta dan Polsek
Perguruan Tinggi/Sekolah
Hukum & Kriminal
Pendidikan


Kepala Sekolah Playgroup Djuwita, Lidya Wati Siadari beberkan kronologi kepada awak media (foto: Egi)


Matakepri.co.id Batam - Manajemen Playgroup Djuwita Batam meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas kasus dugaan intimidasi dan kekerasan yang terjadi di lingkungan sekolah pada 21 April 2026 lalu. Pihak sekolah menyebut insiden tersebut telah berdampak pada kondisi psikologis para guru dan mengganggu aktivitas belajar mengajar.

Kepala Sekolah Playgroup Djuwita Batam, Lidya Wati Siadari, mengatakan sedikitnya tiga guru menjadi korban dalam peristiwa tersebut. Sebagai pimpinan sekolah, ia mengaku memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga keamanan tenaga pendidik serta memastikan suasana sekolah tetap kondusif.

"Sejak kejadian itu beberapa guru merasa terancam. Bahkan saya sendiri yang saat itu sedang hamil juga menerima berbagai bentuk ancaman yang ditujukan kepada sekolah maupun para guru," ujar Lidya dalam keterangannya, pada Rabu (24/6/2026) siang.

Menurutnya, pihak sekolah telah melaporkan kejadian tersebut ke Polresta Barelang. Ia juga menyesalkan adanya sejumlah pemberitaan yang dinilai cenderung menyudutkan sekolah dan para guru tanpa melihat keseluruhan fakta yang terjadi.

"Meski demikian, Lidya mengaku bersyukur karena masih banyak orang tua murid dan masyarakat yang memberikan dukungan moral kepada pihak sekolah," bebernya.

Terkait dugaan kekerasan yang dialami terhadap salah seorang murid berinisial RU, pihak sekolah membantah tuduhan tersebut. Lidya menjelaskan bahwa sejak awal menerima laporan dari orang tua pada Oktober 2025, sekolah langsung melakukan pemeriksaan melalui rekaman CCTV serta meminta klarifikasi dari guru yang bersangkutan.

"Hasil pengecekan tidak menemukan adanya tindakan kekerasan seperti yang dituduhkan. Jika memang ada pelanggaran yang dilakukan guru, tentu kami akan mengambil tindakan tegas dan memberikan sanksi," ungkapnya.

Ia menjelaskan, komunikasi antara sekolah dan orang tua murid sempat berjalan baik. Bahkan hingga Januari, Februari, dan Maret 2026, kehadiran siswa tersebut di sekolah berlangsung normal.

Namun pada awal April 2026, kondisi siswa disebut mengalami perubahan. Pada 7 April, anak datang ke sekolah dalam keadaan kurang nyaman dan kemudian dibawa pulang oleh orang tuanya. Kondisi serupa kembali terjadi saat anak masuk sekolah pada 10 April.

Pihak sekolah mengaku berupaya menghubungi orang tua untuk mengetahui kondisi anak, namun komunikasi tidak berjalan lancar hingga akhirnya dijadwalkan pertemuan dengan pihak sekolah.

Puncaknya terjadi pada 21 April 2026.

Berdasarkan rekaman CCTV yang telah diserahkan kepada penyidik, orang tua siswa datang ke sekolah bersama sekitar 20 orang pria. Situasi disebut memanas ketika rombongan tersebut memasuki area kantor sekolah.

"Kedatangan mereka membuat suasana sekolah tidak kondusif. Saat itu masih ada anak-anak yang melihat langsung kejadian tersebut," ungkap Lidya.

Pihak sekolah juga menilai tindakan tersebut tidak pantas terjadi di lingkungan pendidikan karena dapat menimbulkan rasa takut bagi guru maupun siswa.

Lidya mengapresiasi langkah penyidik yang telah menetapkan salah satu pihak berinisial SS sebagai tersangka dalam perkara tersebut. Namun demikian, ia berharap proses hukum tidak berhenti pada satu orang saja.

"Kami berharap seluruh pihak yang terlibat dan berada di lokasi saat kejadian juga dapat diperiksa sesuai fakta yang ada. Kami sepakat bahwa tidak boleh ada tindakan premanisme di lingkungan sekolah," harapnya.

Di akhir pernyataannya, Lidya mengajak semua pihak untuk menghormati profesi guru dan tidak menggiring opini yang dapat merusak dunia pendidikan.

"Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Jangan kami guru dikriminalisasi. Kami ini pendidik," tegasnya.

Saat ini ada lebih dari 100 anak yang kami didik. Kami berharap pemberitaan dapat berjalan secara berimbang dan tidak menyudutkan sekolah maupun para guru yang setiap hari berupaya memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak. (Egi)

Redaktur: ZB



Share on Social Media