Batam, News, Kepri

STANIA Gandeng Asahi Solder, Perkuat Hilirisasi Timah Indonesia dari Batam

Egi | Minggu 13 Sep 2026 12:36 WIB | 52

DPRD Batam
Pemko Batam
Gubernur Kepri/Wakil Gubernur
Wali Kota/Wakil Wali Kota
Aset Daerah
Lingkungan Hidup
Kawasan Industri
Pengusaha
DPRD Provinsi Kepri
Perusahaan


Penandatanganan kerjasama antara Stania dengan Asahi Solder (foto: Egi)


Matakepri.co.id Batam PT Solder Tin Andalan Indonesia (STANIA), anak perusahaan PT Arsari Tambang, resmi menjalin kerja sama strategis dengan Singapore Asahi Chemical & Solder Industries Pte. Ltd. (Asahi Solder) guna memperkuat pengembangan industri hilir timah di Indonesia.

Kesepakatan tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang berlangsung di pabrik STANIA, Batam, pada Jumat (11/9/2026). Kolaborasi ini mengusung tema “Strengthening Indonesia’s Downstreaming Industry through Strategic Partnership” dan menjadi langkah penting dalam meningkatkan nilai tambah komoditas timah nasional.

Melalui kerja sama ini, kedua perusahaan akan mengembangkan berbagai produk solder bernilai tambah, memperkuat penguasaan teknologi dan kualitas produk, serta memperluas akses pasar. Selain itu, STANIA dan Asahi Solder juga akan menjajaki pengembangan produk solder dengan teknologi lebih maju, termasuk solder paste yang banyak digunakan dalam industri elektronik.

Direktur Utama PT Arsari Tambang sekaligus Wakil Presiden Direktur Arsari Group, Aryo P.S. Djojohadikusumo, mengatakan kolaborasi tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun rantai nilai industri yang lebih kuat dan terintegrasi.

Menurut Aryo, timah Indonesia tidak hanya harus diposisikan sebagai komoditas mentah, tetapi juga sebagai material bernilai tambah yang mampu mendukung sektor manufaktur dan teknologi masa depan.

“Kerja sama ini merupakan bagian dari upaya membangun rantai nilai yang menghubungkan sumber daya alam, material bernilai tambah, manufaktur, hingga teknologi masa depan,” ujarnya.

Aryo menjelaskan, Arsari Group saat ini juga tengah mengembangkan ekosistem teknologi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) melalui RAIA Grid yang mencakup jaringan konektivitas, serat optik, pusat data, layanan cloud, komputasi berkinerja tinggi, hingga pengembangan AI.

Ia menambahkan, perusahaan bahkan tengah mempersiapkan kemampuan perakitan Graphic Processing Unit (GPU) di Indonesia. Untuk mendukung hal tersebut, diperlukan rantai pasok industri yang kuat, termasuk sektor hilirisasi timah yang terhubung dengan industri manufaktur elektronik.

“Harapannya, timah Indonesia dapat terus naik kelas dalam rantai nilai industri dan pada akhirnya mendukung ekosistem teknologi serta AI yang sedang dibangun di Indonesia,” katanya.

STANIA sendiri merupakan bagian dari ekosistem hilirisasi PT Arsari Tambang yang terintegrasi mulai dari sektor pertambangan hingga produk hilir. Pabrik STANIA di Batam yang diresmikan pada Juli 2025 memiliki kapasitas produksi awal sebesar 2.000 ton per tahun dan saat ini memproduksi solder bar serta mengembangkan berbagai produk solder bernilai tambah lainnya.

Sementara itu, Managing Director Singapore Asahi Chemical & Solder Industries Pte. Ltd., Vincent Kho, menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemain penting dalam industri hilir timah dan rantai pasok elektronik global.

Menurutnya, sinergi antara kemampuan manufaktur STANIA di Indonesia dan pengalaman Asahi Solder dalam pengembangan produk solder serta material interkoneksi elektronik akan membuka peluang lahirnya produk-produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

“Kolaborasi ini berpotensi memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok industri elektronik global,” ujar Vincent.

Sebagai perusahaan multinasional yang berbasis di Singapura, Asahi Solder telah memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan teknologi soldering dan material interkoneksi elektronik yang digunakan di berbagai sektor industri.

Selain fokus pada pengembangan industri, STANIA juga menegaskan komitmennya terhadap prinsip keberlanjutan. Pengembangan fasilitas produksi dilakukan dengan memperhatikan efisiensi energi, pengurangan emisi, serta aspek lingkungan guna mendukung industri timah yang lebih ramah lingkungan.

Langkah tersebut dinilai sejalan dengan program pemerintah dalam mendorong hilirisasi industri, peningkatan investasi, serta penguatan sektor manufaktur nasional untuk menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian Indonesia.(Egi)


Redaktur: ZB



Share on Social Media