Batam
Juliadi | Rabu 20 May 2026 18:34 WIB | 106
Kapolsek Batu Aji, AKP Bayu Rizki Subagyo. (Foto: Adi)
Matakepri.co.id, Batam -- Keamanan ruang siber di Kota Batam kembali diuji. Belakangan ini, sebuah narasi mengenai aksi pembegalan yang menyerang seorang pemuda sempat memicu ketakutan massal di berbagai platform media sosial. Namun, setelah dilakukan pendalaman oleh pihak kepolisian, narasi "horor" tersebut terbukti tidak berdasar.
Kapolsek Batu Aji, AKP Bayu Rizki Subagyo, bertindak cepat untuk meluruskan duduk perkara agar keresahan publik tidak semakin meluas.
Ia menegaskan bahwa insiden yang dialami korban berinisial F (22) adalah tindak pidana penganiayaan murni, bukan aksi pencurian dengan kekerasan (begal) seperti yang ramai diperbincangkan netizen.
Berdasarkan investigasi kepolisian, insiden tersebut terjadi pada Senin (18/5/2026) malam di kawasan Sei Lekop, bukan di wilayah Temiang sebagaimana spekulasi yang beredar di grup-grup WhatsApp dan media sosial.
"Kami telah melakukan identifikasi mendalam. Fokus utamanya adalah meluruskan informasi yang terlanjur membuat masyarakat resah. Lokasi kejadian bukan di Temiang, melainkan di Sei Lekop, yang mana wilayah hukumnya masuk ke Polsek Sagulung," tegas AKP Bayu saat diwawancarai, Rabu (20/5/2026).
Ia telah mengarahkan korban untuk melapor ke Polsek Sagulung agar proses hukum terhadap pelaku penganiayaan dapat segera dilakukan oleh Unit Reskrim setempat.
Sementara itu, Fadil, sang pemilik akun yang menyebarkan informasi tersebut, akhirnya muncul ke publik untuk memberikan klarifikasi sekaligus menyampaikan permohonan maaf. Dengan nada menyesal, ia mengakui bahwa status "dibegal" yang ia unggah adalah tindakan gegabah yang berujung pada kegaduhan publik.
"Status yang saya buat bahwa saya dibegal itu tidak benar. Faktanya, saya terlibat perkelahian fisik di daerah Sei Lekop. Saya memohon maaf sebesar-besarnya kepada Bapak Kapolda, Kapolsek, dan masyarakat Batam yang merasa terganggu," ujarnya.
Kasus ini menjadi cermin betapa cepatnya informasi keliru dapat menyebar di era digital. AKP Bayu Rizky mengingatkan bahwa tindakan menyebarkan informasi tanpa fakta yang akurat tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga menciptakan iklim ketakutan yang tidak perlu di masyarakat.
"Teknologi adalah pedang bermata dua. Saya meminta masyarakat lebih cerdas, lebih kritis, dan memegang teguh prinsip Saring sebelum Sharing. Jangan sampai jempol kita justru menjadi sumber kepanikan orang lain," pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, kasus penganiayaan terhadap F tengah ditangani secara intensif oleh aparat kepolisian sektor Sagulung guna mengungkap motif dan pelaku yang terlibat dalam perkelahian tersebut. (Adi)
Redaktur : ZB