Batam, Ekonomi

Harga BBM Meledak, Tarif Angkutan Resmi Naik

Juliadi | Sabtu 18 Apr 2026 17:02 WIB | 828

Pertamina
Transportasi
Ekonomi & Bisnis


SPBU Tanjung Uncang di samping Kantor Lurah. (Foto : Adi)


Matakepri.co.id, Batam -- Wajah sektor logistik di gerbang internasional Indonesia, Batam, sedang muram. Selama berminggu-minggu, para pengusaha Jasa Pelayanan Transportasi (JPT) mencoba "puasa" keuntungan dengan menahan tarif angkutan. 


Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA) Batam akhirnya menyerah pada keadaan. Keputusan untuk membebaskan anggota menyesuaikan tarif operasional diambil bukan tanpa alasan. Harga BBM nonsubsidi jenis Pertamina Dex yang menyentuh Rp24.000 dan Dexlite di angka Rp24.150 telah mengubah kalkulasi bisnis menjadi mimpi buruk.


Ketua DPC ALFI Batam, Yasser Hadeka Daniel, menyoroti sebuah ironi besar. Di saat truk-truk logistik di Sumatera dan Jawa masih bisa bernapas lega dengan solar subsidi di kisaran Rp6.000 – Rp7.000, truk di Batam dipaksa "berlari" dengan biaya empat kali lipat lebih mahal.


"Kami berada di ring satu perdagangan internasional, tapi biaya operasional kami paling mencekik. Bagaimana industri bisa bersaing jika biaya trucking kita empat kali lipat dari wilayah lain," ungkapnya kepada awak media, Sabtu (18/4/2026).


Ketimpangan ini menciptakan jurang efisiensi yang dalam. Upaya optimasi rute hingga penghematan internal yang dilakukan perusahaan JPT selama ini terbukti tak lagi mampu membendung arus kenaikan BBM yang mencapai hampir 100%.


Lanjut katanya, kenaikan tarif logistik bukan sekadar angka di atas kertas kontrak antara pengusaha. Ini adalah alarm bagi daya beli masyarakat Kepulauan Riau. Mengingat Batam adalah wilayah kepulauan yang sangat bergantung pada jalur distribusi darat dan laut, kenaikan biaya angkut akan langsung bermuara pada harga barang di pasar.


Barang-barang konsumsi, kebutuhan pokok, hingga bahan baku industri kini berada di ambang kenaikan harga.

1. Logistik Internasional: Alur ekspor-impor dari Singapura terancam lebih mahal.

2. Kebutuhan Pokok: Harga pangan lokal berpotensi melonjak karena biaya distribusi dari pelabuhan ke distributor membengkak.


Lanjutnya, langkah ALFI mengizinkan kenaikan tarif adalah sinyal "S.O.S" kepada pemerintah. Meski lampu hijau kenaikan tarif sudah dinyalakan, ALFI masih berharap pada keajaiban regulasi.


Penyediaan kuota BBM subsidi khusus untuk armada logistik dianggap sebagai satu-satunya rem darurat yang bisa menghentikan laju inflasi. Dialog dengan BP Batam dan Pertamina kini menjadi harapan terakhir agar stabilitas ekonomi di Batam tidak jatuh ke titik yang lebih rendah.


"Kami tidak ingin membebani masyarakat, tapi kami juga tidak bisa membiarkan bisnis transportasi mati pelan-pelan. Solusi kini ada di tangan pembuat kebijakan," tutupnya. (Adi)


Redaktur : ZB



Share on Social Media