Batam, Nasional , News
Egi | Kamis 07 May 2026 11:00 WIB | 439
Foto Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo bersama Presiden Jokowi (Foto: Hops.id)
Matakepri.co.id, Jakarta - Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo akhirnya membuka cerita di balik pencopotannya sebagai Panglima TNI pada 2017. Ia mengaku digantikan Marsekal TNI (Purn) Hadi Tjahjanto karena berulang kali menolak permintaan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mempromosikan sejumlah perwira menjadi jenderal bintang tiga.
Pernyataan itu disampaikan Gatot saat menjadi pembicara dalam Milad ke-5 Partai Ummat sekaligus Konsolidasi Menuju Kemenangan Pemilu 2029, yang disiarkan langsung di YouTube Partai Ummat, Senin (4/5/2026) atau Selasa dini hari.
“Saya buka saja sekarang biar Pak Jokowi marah,” kata Gatot, disambut tawa peserta acara.
Gatot menceritakan bahwa Jokowi pernah meminta dirinya menaikkan pangkat seorang perwira menjadi letnan jenderal. Ia mengaku tidak langsung menyetujui dan memeriksa rekam jejak perwira tersebut terlebih dahulu.
Setelah menemukan sejumlah masalah, Gatot memanggil perwira bersangkutan. “Setelah berat badannya turun 6 kilo, saya kasih selembaran. Ini kesalahanmu, mau dilanjutkan atau tidak?” ungkapnya.
Keesokan harinya, Gatot dipanggil Presiden. “Pak Panglima, dia masih suka di sana?” tanya Jokowi.
“Oh iya, Pak. Bagus di sana saja. Nggak jadi naik bintang tiga dia,” jawab Gatot saat itu.
Menurut Gatot, kejadian seperti ini terjadi berulang kali hingga akhirnya dianggap tidak patuh. “Ya sudah, ditendanglah saya, nggak nurut,” ujarnya sambil tertawa.
Gatot menegaskan bahwa TNI adalah institusi besar yang melatih, mengorganisasi, dan mempersenjatai prajurit, sehingga pemimpinnya harus orang yang benar. Ia diberhentikan beberapa bulan sebelum memasuki masa pensiun, lalu ditempatkan sebagai Perwira Tinggi di Markas Besar TNI Angkatan Darat.
Pengakuan Gatot ini langsung menjadi sorotan karena menyinggung sensitivitas hubungan antara pimpinan militer dan kekuasaan politik. Ia menegaskan bahwa sikapnya semata-mata demi menjaga integritas TNI.
Hingga kini, belum ada tanggapan dari pihak Presiden Joko Widodo terkait pernyataan tersebut. (Red)
Redaktur: ZB